Menjadi bagian dari keluarga besar Volkswagen Group yang sempat tersandung skandal Dieselgate pada tahun 2015 membuat Audi paham betul dengan standar emisi gas buang yang berlaku di Amerika Serikat dan Eropa. Berangkat dari kondisi tersebut, Audi terus mengembangkan teknologi pembersih emisi gas buang. Kali ini, Audi fokus untuk membuat teknologi terbaru yang dapat mereduksi emisi gas buang secara optimal. Untuk mesin bensin dan diesel, salah satu polutan yang sangat berbahaya terhadap makhluk hidup dan lingkungan (ekosistem dan pertanian) adalah nitrogen oksida (NOx).
Sekitar 20 tahun lalu di Eropa, mobil bermesin diesel disebut laik jalan kalau memenuhi batas emisi gas buang Euro 3 untuk NOx sebanyak 500 mg/km. Sekarang, regulasi emisi gas buang Euro 6d (berlaku mulai tahun 2020) hanya membolehkan emisi NOx sebesar 80 mg/km. Untuk memenuhi tuntutan tersebut, Audi melengkapi mesin diesel buatannya dengan katalis oksidasi (NSC) dan diesel particulate filter berlapis SCR (SDPF) yang ditempatkan sedekat mungkin exhaust turbocharger. Sedangkan SCR catalytic converter yang kedua diletakkan dekat sistem knalpot. Perangkat NSC dapat menyimpan senyawa NOx secara temporer sebelum kemudian dibersihkan. Langkah lain adalah penerapan aditif AdBlue yang harus ditambahkan secara berkala dan ditempatkan satu unit dekat SDPF plus satu unit lainnya dekat SCR. Penerapan semua teknologi tersebut mampu membersihkan 90% polutan NOx. Agar mampu bekerja optimal, teknologi pembersih emisi tersebut butuh diesel fuel dengan kandungan sulfur rendah.
KOMENTAR (0)