Formula E: Balap Mobil Listrik yang Ditunggu & Diragu

 

Ajang balap Formula E akan digelar di Beijing, September 2014. Banyak pihak siap mendukung, mulai dari aktor Leonardo DiCaprio sampai perusahaan telekomunikasi multinasional, Qualcomm. Namun, tak sedikit pula yang meragukan. Salah satunya Bernie Ecclestone, pemilik balap Formula 1.

 

 

Kabar bahwa London akan menjadi tuan rumah balap Formula E pertama pada September 2014, ternyata urung. Federation Internationale de l’Automobile (FIA) sudah memutuskan: Beijing-lah yang beruntung!

 

Sebagai penggagas kejuaraan Formula E, atawa ajang balap khusus mobil tenaga listrik, FIA memastikan, tujuan lomba tersebut untuk meningkatkan popularitas mobil elektrik ke hadapan masyarakat. Dan, sebagai pionir, Beijing dianggap paling memadai. Tentu, setelah itu, seperti rencana semula, event yang sama akan digelar juga di sembilan kota lainnya, termasuk London.

 

 

Sebanyak sepuluh tim, masing-masing terdiri dari dua orang , akan adu cepat di sirkuit selama satu jam sambil memacu kendaraan sampai 220 km/jam. Namun, karena teknologi baterai belum “mumpuni”, para pembalap nantinya harus pindah ke mobil cadangan setelah 25 menit atau setengah balapan.

Kendati terkesan tak umum, namun Penyelenggara Formula E, Alejandro Agag, bersikeras, “Ini balapan asli, bukan pawai atau demonstrasi mobil listrik.”

Toh, Agag  mengakui, “Formula E tidak akan bisa menyamai Formula 1 dan IndyCar, terutama dalaml performance. Namun, balap tersebut akan membantu pemasaran mobil listrik, sekaligus menghilangkan citra bahwa mobil listrik punya jarak tempuh terbatas.”

 

Memang, selama ini banyak masyarakat meragukan keandalan mobil listrik karena membutuhkan waktu cukup lama dan tidak bisa instan. Bahkan, seorang analis otomotif yang meyakini Formula E akan dapat membantu meningkatkan persepsi publik, tetap berkeyakinan, “Perlu ada perkembangan lain jika teknologi ini ingin diterima masyarakat luas.”

 

 

Alih-alih diragukan, namun, kenyataannya, antusiasme industri otomotif dunia terhadap Formula E tak pernah surut. Beberapa pabrikan mobil, termasuk Mercedes-Benz di Jerman, bahkan  telah memproduksi mobil-mobil bertenaga baterai.

 

Dukungan sponsor pun, baik individu maupun perusahaan, siap mengucur. Mulai dari aktor Leonardo DiCaprio, sampai Richard Branson, pemilik Virgin Group.

 

 

Alejandro Agag sendiri, bersama rekannya sesama pengusaha asal Spanyol, Enrique Banuelos, sudah berinvestasi US$ 100 juta untuk meluncurkan Formula E. Agag, yang tinggal di London, memiliki satu tim dalam balap GP2, sementara Banuelos adalah miliuner properti.

Selain itu, Wye Grousbeck, pemilik tim basket Boston Celtics, juga menyatakan tertarik. Melalui  perusahaan pendanaan yang didirikan bersama rekan-rekannya, Grousbeck menyuntikkan US$ 20 juta.

 

 

Sebelumnya Qualcomm, sebuah perusahaan telekomunikasi multinasional, sudah lebih dulu menjadi sponsor untuk lima tahun ke depan. Mereka, kabarnya, akan menyediakan teknologi pengisian baterai nirkabel bagi tim balap, maupun kendaraan listrik yang dipakai para penonton saat datang menyaksikan lomba Formula E.

 

Terakhir, perusahaan Renault SA dan ban Michelin juga siap mendukung  jika Formula E tampil di Los Angeles, London, serta Miami. Dari sisi publikasi pun, menurut Agag, tak ada masalah.

 

 

“Formula E sudah teken kontrak siaran televisi dengan Fox Amerika dan lebih dari 80 negara. Pada saatnya nanti kami akan umumkan nama-nama para investor lain yang sudah bergabung. Banyak yang berminat, dan ini tidak kami sangka,” katanya, dalam wawancara dengan Reuters.

 

Kalaupun ada sedikit “masalah”, itu karena Bernie Ecclestone, pemilik balap Formula 1, belum kunjung mau mendukung keberadaan Formula E. Dugaan Agag, “Dia tidak terlalu tertarik dengan Formula E. Dia tidak yakin dengan konsep Formula E.” 

 

KOMENTAR (0)