Tokyo Motor Show - Left ad
Tokyo Motor Show -Right ad

Ronny Arifudin: “Generasi Muda” di Komunitas Mobil Tua

Segudang harapan berletupan ketika Ronny Arifudin – yang dianggap mewakili “generasi muda” – terpilih sebagai  Ketua Umum Perhimpunan Penggemar Mobil Kuno Indonesia (PPMKI) periode 2014-2017. Salah satunya: Ronny bakal mampu “meremajakan” organisasi yang resmi berdiri sejak 13 November 1979 tersebut.

Dan, Ronny – meski tak terlalu muda lagi (lahir di Sukabumi, 24 Februari 1964) – cuma tertawa berderai ketika hal itu kembali disinggung otoblitzclassic saat mewawancarainya beberapa pekan lalu.

BACA JUGA : “Perang Gadget” di Mobil Pintar

Aktif di PPMKI sejak tahun 1999 sebagai member biasa, “karir” Ronny terus melesat. Pernah menjabat sebagai Ketua PPMKI Pengda DKI, Sekjen PPMKI Pusat, Ketua IV PPMKI Pusat, Penasihat, sebelum akhirnya didaulat menjadi Ketua Umum PPMKI menggantikan HM Bambang Rus Effendi.

Mengaku sudah cinta otomotif sejak kecil, ia pun berkisah, “Waktu itu saya sering mengumpulkan diecast, dan kebetulan bapak saya juga penggemar otomotif dan sering berganti-ganti mobil.”

BACA JUGA : Pertamina Dex: Pasti Pas untuk Mobil Mewah

Kesukaannya, ternyata, mobil-mobil jadoel yang, menurutnya, “Memiliki bentuk aneh-aneh. Melihatnya saja saya sudah senang sekali!”

Saat kelas 4 SD, ia mulai coba-coba memaju-mundurkan mobil ayahnya. Meskipun sering nabrak dan dimarahi, Ronny tetap membandel.

BACA JUGA : Hauwke: “Obsesi Saya Keliling Dunia dengan Mobil Klasik!”

Menginjak SMP, ia sudah berani mengendarai mobil sendiri Jakarta-Bandung pulang-pergi. “Saya menggunakan Holden Kingswood 1970 setir kiri. Dan, sejak saat itu, saya semakin menyukai mobil-mobil klasik, apalagi setelah sering melihat konvoi mobil klasik PPMKI di Bandung,” tambahnya.

Begitu dewasa, dan baru dua tahun bekerja, sekitar 1989, dengan uang sendiri, ia membeli sebuah Volkswagen 1203 keluaran 1974. Dan, ia mengenang, “Rasanya bahagia sekali bisa membeli mobil sendiri. Apalagi tahun 1999, saya juga berhasil membeli Mercy Batman type 190 (1964), bekas mobil dinas Direktur Bank Indonesia.”

Namun, saat itu ia berpikir, “Kayaknya kok kurang seru kalau mengendarai mobil ini sendirian. Akhirnya, bersama Iwan Dyah dan kawan-kawan, kami mendirikan Mercedes-Benz Tiger Club Indonesia (MTC INA).”

Kiprah tersebut membuat Ronny semakin banyak mengenal dan dikenal para anggota komunitas, sekaligus kian mendekatkannya dengan para pengurus serta member PPMKI – sebelum akhirnya bergabung dan mulai ikut touring ramai-ramai. “Touring pertama kali saya bersama PPMKI saat menggelar Musda di kawasan Puncak, Bogor,” katanya.

Sempat memiliki 25 unit mobil klasik, Ronny mengaku banyak manfaat sejak bergabung dengan PPMKI. “Saya jadi semakin tahu tentang mobil klasik dan bisa mengerti mana mobil klasik yang bernilai.”

Hal lain yang membuatnya senang, “Di PPMKI itu tidak ada kepentingan pribadi, tidak ada jarak antara senior dan junior, atasan dan bawahan. Bahkan mulai dari sopir sampai jenderal bisa bercengkerama bersama.”

Di PPMKI, setiap 16 Agustus, mereka memiliki tradisi napak-tilas ke Rengasdengklok. Kemudian, setiap 10 November, menggelar tabur bunga ke Makam Pahlawan Surabaya. Belakangan, mulai diaktifkan kembali kegiatan tabur bunga di makam Proklamator – bergantian antara makam Bung Karno dan Bung Hatta – pada 17 Agustus.

Namun, sebagai “kepala suku”, Ronny masih menyimpan satu impian: “Suatu saat nanti PPMKI akan bisa bergabung dengan asosiasi-asosiasi mobil klasik luar negeri, sehingga kami bisa menjalin hubungan dengan mereka, bertukar pikiran, atau bahkan jika kami melakukan touring ke luar negeri akan lebih mudah. Saat ini sudah ada tim yang sedang mengurus hal tersebut. Mudah-mudahan saja bisa segera terlaksana.”

Kebetulan pula selain sebagai Ketua Umum PPMKI, Ronny juga menjadi salah satu pengurus di Ikatan Motor Indonesia (IMI), sehingga ia berani memastikan, “Sekarang kalau akan melakukan kegiatan-kegiatan di luar negeri, kami tak terlalu khawatir, karena IMI sudah bekerjasama dengan pihak beacukai dalam penerbitan CPD-Carnet. Dengan CPD-Carnet ini, kami jadi lebih mudah mengurus dokumen-dokumen jika akan melakukan touring dan pameran ke luar negeri, atau sebaliknya.”

Kendati suka mobil klasik, namun karyawan sebuah bank BUMN besar di Indonesia ini mengaku tidak pernah memfavoritkan salah satu diantaranya. "Saya suka semua jenis mobil klasik. Tapi, kalau bicara yang paling saya senengin, itu adalah Lincoln Continental (1968)  7.500 cc, yang dulu pernah mejeng di ajang Otoblitz International Classic Car Show pertama,” ungkapnya.

Menyinggung Otoblitz International Classic Car Show (OICCS), pehobi rally ini bilang, “Dengan adanya OICCS, seluruh pecinta mobil klasik jadi mengerti bahwa mobil klasik itu bukan hanya untuk jalan-jalan. Lewat OICCS, banyak masyarakat semakin tahu betapa berharganya mobil-mobil klasik, apalagi yang keluaran sebelum masa perang dunia. Bahkan, karena OICCS, sekarang harga mobil klasik jadi sangat tinggi!”

Kian sering digelarnya pameran dan kontes mobil klasik, ia yakini, “Memiliki mobil klasik kini sudah menjadi lifestyle.”

 

Rate this article:
(Average Rating 0 Based on 0 rating)

NEWS Updates

NEWS Updates


Related Articles


Most Popular